The Legendary Hero is an Academy Honors Student Chapter 9

Posted by Admin, Released on

Option


Chapter 9

"Lama tidak jumpa, Wakil Kepala Gis."


"Apa kabar, Penyihir Kekaisaran Roses-nim?"


Gis menyapa Roses Rwallin.


Roses Rwallin adalah sepupu dari kepala keluarga Rwallin saat ini sekaligus memegang posisi sebagai Penyihir Kekaisaran.


"Tidak disangka Abad, Chelsea, dan Celia semuanya mendaftar ke Lumeren pada angkatan yang sama. Hahaha! Sebagai sesama orang dari Kekaisaran, ini tentu saja merupakan momen yang sangat membahagiakan!"


Abad, anak dari kepala keluarga, berusia enam belas tahun. Sedangkan Chelsea berusia empat belas tahun.


Dari sudut pandang Kekaisaran, kehadiran tiga talenta cemerlang yang mewakili negara pada tahun yang sama adalah sebuah berkah besar.


Namun, bagi kedua keluarga yang tengah bersaing memperebutkan posisi keluarga paling bergengsi di Kekaisaran, hal ini justru menjadi permulaan dari persaingan berdarah.


"Meskipun begitu, Abad sepertinya akan merebut posisi pertama di ujian masuk wilayah barat ini."


"Apakah Anda punya alasan khusus sehingga begitu yakin?"


"Abad dan Celia jelas-jelas adalah kandidat terkuat untuk posisi pertama."


Roses melirik sekilas ke arah Albi, sang penguji yang berdiri di atas podium.


"Ujian kali ini terasa tidak biasa. Ada terlalu banyak variabel. Terlebih lagi, Abad memiliki Chelsea di sisinya."


Maksudnya adalah kedua kakak beradik itu akan bekerja sama untuk menumbangkan Celia.


Chelsea adalah petarung tangguh yang masuk dalam jajaran lima besar peserta ujian.


Jika dia membantu Abad, bahkan Celia pun akan kesulitan menghadapi mereka.


'Situasi ini memang merugikan dalam banyak hal... tapi bukan berarti kita sepenuhnya tidak punya peluang.'


Di pihak mereka, ada seorang joker tersembunyi.


Tepat saat Gis tersenyum penuh arti sambil memikirkan Leo.


Wusss—!


Sebuah cermin sihir persegi berukuran raksasa muncul mengapung di udara.


"Ooooh—!" Penonton bersorak takjub.


Itu adalah sihir pengamat yang memungkinkan orang-orang di luar melihat langsung ke dalam Hero's World.


Situasi ujian sedang disiarkan secara langsung di tempat itu.


Cermin sihir tersebut memancarkan cahaya terang, lalu menampilkan sebuah layar visual.


Begitu layar itu menyala dan memperlihatkan pemandangan di dalamnya—


"Pfft—!"


Gis tanpa sadar meledakkan tawa, sementara mata Roses membelalak lebar.


Meskipun suara dari dalam dunia virtual tidak terdengar keluar, tampak seorang gadis berambut biru langit cerah sedang berteriak-teriak.


Sebuah api unggun tampak menyala tepat di bawah sang gadis, yang digantung di udara dengan tangan dan kaki terikat erat.


Dan di sampingnya, seorang remaja berambut putih yang memegang tali tampak tertawa penuh kejahatan sambil menyesuaikan ikatan tali tersebut.


Saat Chelsea sadar kembali, dia mendapati dirinya sedang tergantung di udara dengan kedua tangan dan kaki terikat menjadi satu.


"A-apa-apaan ini?!"


"Sudah bangun? Karena kau sudah sadar, izinkan aku bertanya. Kau mau bekerja sama denganku? Atau tidak?"


"Kupastikan kau menyesal karena mengikatku dengan tali murahan begini alih-alih langsung melenyapkanku!"


Chelsea, yang berbicara dengan nada penuh kebencian, mencoba menghimpun mananya.


'T-tunggu? Kenapa manaku tidak mau bergerak?'


Rasanya ada sesuatu di sekelilingnya yang menekan dan menyegel aliran mananya.


"Jangan bilang... Formasi Penyegel Mana?!"


"Benar. Aku sendiri yang menggambarnya."


"Kau seorang Magic Swordsman?"


"Bukan. Aku sama sekali tidak punya mana saat ini. Jadi formasi penyegelannya juga tidak terlalu kuat."


"Ugh! Tidak kusangka kau punya bakat sihir! Tapi aku bisa menghancurkan formasi penyegelan yang tidak dialiri mana semudah yang kuinginkan!"


"Tentu saja kau bisa. Dengan catatan, kalau kau bisa berkonsentrasi dengan baik."


"Apa? Hiiiiik—!"


Chelsea mendadak diteror oleh sensasi panas membara yang menjilat bagian belakang tubuhnya.


Begitu Leo sedikit mengendurkan talinya ke bawah, hawa panas dari api unggun langsung terasa menyengat.


"T-tunggu! Hentikan! Kyaaaaaak! Jangan diturunkan lagi!"


"Jadi? Kau mau bekerja sama? Atau tidak?"


"Mana mungkin aku sudi bekerja sama dengan orang dari Zerdinger sebagai anggota keluarga Rwallin!"


"Begitu ya? Sayang sekali, kulihat bagian belakang rokmu sepertinya mulai terpanggang, lho?"


"Kyaaaaaak! Hentikan! Hentikan!"


Chelsea meronta-ronta dengan histeris.


Panas yang menyengat merayap naik.


Dia mencobaberusaha setengah mati untuk memecahkan formasi penyegelan tersebut, tetapi hal itu sama sekali tidak mudah.


Formasi Penyegel Mana membutuhkan bakat sihir yang cukup tinggi.


Bahkan formasi penyegel tanpa aliran mana pun tetap menuntut tingkat konsentrasi mental yang tinggi untuk bisa dipatahkan.


Tentu saja, jika Chelsea adalah seorang penyihir yang lebih berpengalaman, dia pasti bisa mengatasinya.


Namun, dia masih terlalu hijau untuk ukuran kapasitas sihir yang dimilikinya.


Leo berhasil membaca celah itu dengan sempurna.


Wajah Chelsea langsung memucat pasi.


'Ujian masuk ini sedang disaksikan dari luar! Kalau orang-orang melihatku dalam kondisi seperti ini!'


Tidak ada bentuk penghinaan yang lebih besar daripada ini!


Wusss—!


Ujung kain rok yang dikenakannya bahkan mulai tersambar api!


"Kyaaaak! Panas! Hentikan! Stooop!"


"Bersumpahlah atas nama keluargamu. Bahwa kau akan bekerja sama."


"Aku mau! Aku akan melakukannya! Aku akan bekerja sama, jadi aku bersumpah atas nama Rwallin, kumohon hentikan!"


Chelsea memohon dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


'Gampang sekali dikendalikan, dasar anak-anak.'


Hehehe— Leo tertawa kecil sambil menarik tali tampar tersebut.


Begitu berhasil dilepaskan, Chelsea buru-buru memadamkan sisa api dengan air mata berlinang.


'J-jangan bilang orang-orang di luar sana melihat semua ini, kan? Ya. Pasti begitu. Mereka pasti tidak melihatnya. Ujiannya kan baru saja dimulai, jadi mereka pasti sedang menyorot peserta lain.'


Namun, malang bagi Chelsea, adegan saat Leo dan Chelsea itu justru menjadi tayangan pertama yang disiarkan secara langsung melalui cermin sihir.


'Hmm.'


Albi menghela napas dengan ekspresi malas.


Hero's World yang terbentang di hadapannya saat ini memiliki arti khusus baginya.


Itu adalah halaman pertama dari kisah kepahlawanan miliknya sendiri.


Catalis yang membawanya naik hingga mencapai posisi seorang pahlawan.


Mengamati para peserta ujian yang berjuang di dunia tersebut, Albi membatin.


'Semuanya masih kelas teri.'


Albi mendecakkan lidahnya kesal. Tsk—


Seorang pahlawan adalah sosok yang diakui oleh para dewa.


Itulah sebabnya orang-orang selalu menganggap pahlawan sebagai figur yang mulia dan bermartabat.


Tentu saja, ada orang-orang yang memang seperti itu.


Namun, setidaknya Albi sama sekali tidak cocok dengan citra umum tersebut.


Dia adalah tipe orang dengan kepribadian neurotik yang mengutamakan efisiensi di atas segalanya.


Dia benci ketidakefisienan.


Dan dia paling benci hal-hal yang merepotkan.


Itulah alasan mengapa dia merancang ujian kali ini dengan cara seperti itu.


Bertahan hidup di Mysterious Realm of Monsters.


Siapa pun yang bisa bertahan adalah yang terkuat.


Ujian yang sangat sederhana namun efektif untuk menyaring mutiara dari bebatuan biasa.


Dan hasilnya pun mulai terlihat.


Saling menjatuhkan pesaing.


Atau bertahan hidup dengan melawan monster.


Dua pilihan yang disajikan dalam ujian ini.


Sebagian besar peserta ujian memilih untuk saling menjatuhkan pesaing terlebih dahulu.


'Benar-benar bodoh.'


Mereka pasti memutar otak mereka sendiri.


Berpikir bahwa itu adalah cara tercepat untuk meroketkan peringkat mereka.


Padahal ada monster-monster yang berkeliaran di Forest of Monsters.


Orc, Gnoll, dan Goblin bukanlah jenis monster yang memberikan ancaman terlalu besar bagi para peserta ujian.


Tentu saja, Troll adalah monster yang berbahaya, tetapi jumlah mereka sangat langka dan sulit ditemui.


Kesalahan terbesar yang dilakukan para peserta ujian ada dua hal.


Pertama. Mereka tidak menganalisis informasi dengan benar.


Albi memang memaparkan isi ujiannya.


Namun dia tidak pernah menyebutkan apa kriteria kelulusannya.


Dengan kata-kata lain, mereka seharusnya sadar bahwa menyingkirkan sesama peserta bukanlah segalanya, dan bergerak dengan lebih hati-hati.


Kedua. Salah menilai karakteristik Forest of Monsters.


Itu adalah hutan yang bahkan gagal ditaklukkan oleh banyak kekuatan besar meskipun mereka telah mengerahkan pasukan militer penuh.


Meskipun monster-monster di sana tergolong kelas rendah, jika harus bertarung tanpa henti, fisik seseorang pasti akan kelelahan.


Dalam situasi seperti itu, bertarung tanpa menjalin kerja sama adalah resep kehancuran.


'Tentu saja, kalau kau punya kemampuan mutlak, kau bisa melibas penumpasan monster sekaligus menyingkirkan pesaing.'


Albi melengkungkan sudut bibirnya sambil menatap cermin sihir.


Rambut hitam dan mata merah.


Dia melihat seorang gadis dengan pedang yang dilapisi Aura api.


'Celia Zerdinger. Sesuai dengan rumor yang beredar.'


Celia sedang menghadapi tiga ekor Troll sekaligus.


Dan di belakangnya, seorang pemuda berambut biru langit cerah sedang merapalkan mantra.


'Abad Rwallin juga sama. Masa depan Kekaisaran tampaknya cerah.'


Keduanya, yang dikenal sebagai rival abadi, secara kebetulan langsung berjumpa begitu mereka memasuki Hero's World.


Sebagai individu yang memiliki kemampuan luar biasa untuk melibas ujian ini seorang diri, mereka justru memilih jalan kerja sama alih-alih saling bersaing.


Karena mereka mampu memahami esensi sejati dari ujian ini dengan tepat.


'Jika itu mereka berdua, tidak akan ada masalah. Sebaliknya, akan sulit menentukan siapa yang lebih unggul.'


Albi memasang ekspresi puas.


Sambil memperkirakan bahwa posisi pertama dan kedua pasti akan direbut oleh mereka berdua.


Tampilan pada layar cermin sihir tiba-tiba berubah.


Peserta ujian yang tertangkap kamera cermin sihir kali ini sedang bertarung melawan seekor Orc.


'Siapa namanya tadi? Leo Plov?'


Peserta ujian yang paling awal tereksprokam di layar cermin sihir.


Serta peserta yang menunjukkan perilaku paling di luar nalar sepanjang ujian ini berlangsung.


Sebagian besar penonton memandang Leo—yang tega mengikat nona muda keluarga Rwallin dan nyaris memangsanya di atas api unggun—sebagai orang gila.


Namun, Albi justru memberikan nilai tinggi kepada Leo.


'Apapun caranya, berhasil mengamankan kerja sama dari seorang Chelsea Rwallin adalah poin positif yang patut diapresiasi.'


Itulah mengapa dia menantikan penampilan seperti apa lagi yang akan ditunjukkan oleh peserta tersebut.


Dan apa yang disaksikannya saat ini benar-benar melampaui ekspektasi.


Bahkan dirinya, seorang pahlawan, dibuat terkejut.


'Dia tidak memiliki kekuatan destruktif dan kemewahan visual seperti Celia Zerdinger, tapi...'


Cara pemuda itu menebas Orc dengan gerakan yang sangat minim memperlihatkan teknik matang yang kedalamannya sulit diukur.


'Dia adalah kuda hitam yang tidak terduga.'


Puhwak—!


"Chwi-aak—!"


Setelah meninggalkan Orc dengan jantung tertusuk di belakangnya, Leo memutar tubuhnya.


Pedangnya terayun secara alami.


Ayunan pedang yang memanfaatkan gaya sentrifugal itu dengan telak menebas putus kepala Orc yang berniat menyerang dari arah punggung.


Begitu berpapasan dengan sepuluh ekor Orc sekaligus, Leo langsung melesat maju tanpa ragu.


Orc adalah monster dengan tingkat kecerdasan yang cukup tinggi, sehingga jika diberi kesempatan, mereka akan langsung membentuk formasi tempur.


Ia merebut inisiatif serangan lebih cepat sebelum hal itu terjadi.


Sementara Leo berada di garis depan membantai para Orc, Chelsea merapalkan mantranya di barisan belakang.


"Wind Arrow."


Sihir yang telah selesai dirapalkan langsung meluncur deras.


Peobeobeobeok—!


"Kkuaaaaaak!"


"Chwi-eek!"


Para Orc yang tertusuk sihir menjerit kesakitan.


Tujuh ekor Orc tewas seketika akibat terjangan sihir tersebut.


Leo, yang dengan bersih menggorok leher Orc terakhir, mengibaskan darah yang menempel di bilah pedangnya.


Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia melangkah maju kembali.


Chelsea, yang mengekor di belakangnya, membatin dalam hati.


'Berkompetisi seperti ini terasa sangat nyaman.'


Meskipun bercita-cita menjadi seorang Battle Mage, seorang penyihir tetaplah seorang penyihir.


Taktik paling efisien pada akhirnya adalah menyerahkan lini depan kepada pejuang yang handal dan fokus memberikan dukungan tembakan dari barisan belakang.


Dan Chelsea merasa ritme bertarungnya sangat cocok dengan Leo.


Awalnya dia merasa sangat marah karena dipaksa bergabung dalam kelompok secara tidak sukarela akibat diancam. Namun setelah melewati tiga kali pertempuran, dia mulai menyadari bahwa keputusan itu tidaklah buruk.


Bukan hanya soal cara menghadapi monster.


Pemuda itu dengan cerdik menggiring para monster ke satu titik agar sihir area miliknya bisa menghasilkan efisiensi maksimal.


Sihir adalah tipe serangan area (AoE).


Tentu saja, semakin berkumpul musuh dalam satu titik, semakin besar pula efek kerusakannya.


"Lumayan juga, bisa memasak para Orc itu dengan mudah tanpa harus menggunakan Aura."


"Aku tidak tahu cara menggunakan Aura."


"Hah?"


"Aku belum mempelajarinya."


'Apakah mungkin bergerak seperti itu tanpa menggunakan Aura sedikit pun?'


Meskipun merasa ragu, dia akhirnya memahami alasan mengapa dirinya bisa dikalahkan dengan mudah sebelumnya.


'Dia tidak menggunakan Aura, pantas saja deteksi manaku tidak bisa menangkap keberadaannya.'


Chelsea berkacak pinggang dengan ekspresi penuh kemenangan.


"Membongkar rahasiamu sendiri seperti itu! Kau bodoh ya!"


"Kau tidak akan bisa menumbangkanku dengan kemampuanmu yang sekarang, jadi tidak perlu khawatir."


"Hohoho! Lihat saja gaya bicara sombongmu itu."


"Aku cuma menyampaikan fakta."


Ucap Leo dengan nada acuh tak acuh.


"Jujur saja, kemampuan bertarungmu memang hebat."


"Eh?"


"Kau punya mana yang kuat dan kemungkinan besar menguasai berbagai jenis mantra."


"Memuji secara terang-terangan begitu tidak akan membuatmu mendapat keuntungan apa-apa, tahu."


Meskipun menjawab dengan ketus, ada rasa senang yang menyelinap di hatinya atas pujian tak terduga itu.


"Tapi masalahnya ada di situ."


"Hah?"


"Kemampuanmu terlalu bagus, jadi kau tidak memanfaatkan esensi sejati dari sihir angin secara tepat."


Gaya bertarung Chelsea adalah mendesak musuh menggunakan sihir destruktif bertenaga besar.


Cara itu sama sekali bukan esensi dari sihir angin.


"Kebanggaan keluarga kami adalah sihir angin. Berani-beraninya membahas sihir angin di hadapan seorang Rwallin. Lucu sekali."


Chelsea mencibir.


Komentar Leo barusan sama sekali tidak bisa diterima olehnya.


Dia merapalkan mantra menggunakan Bahasa Rune dan mengulurkan tongkat sihirnya ke samping.


"Wind Break."


"Geu-eo-eo-eo-eo!"


Bilah angin yang tajam melesat menembus semak-semak dan mencabik-cabik seekor Troll yang sedang bersembunyi.


Troll yang ambruk ke tanah sempat berkedut beberapa kali sebelum akhirnya tak bernyawa.


Itu adalah aksi pamer kekuatan dari Chelsea menggunakan sihir tingkat tinggi yang telah dirapal sebelumnya untuk membuat Leo merasa terintimidasi.


'Biar dia tahu rasa karena sudah bersikap sok tahu soal sihir! Dia pasti terkejut melihat kekuatan yang baru saja kuperlihatkan, kan?'


Chelsea memasang ekspresi bangga.


Namun Leo justru menanggapinya dengan ekspresi datar tanpa minat.


"Bukannya begitu cara menggunakan sihir angin."


Keunggulan terbesar dari sihir angin terletak pada kelenturan dan fleksibilitasnya.


Menekan musuh hanya dengan mengandalkan kekuatan mentah adalah metode serangan yang paling gagal mengeksploitasi karakteristik sihir angin.


Mendengar ucapan Leo, wajah Chelsea memerah menahan kesal.


Dia memalingkan wajahnya seolah enggan mendengar lebih lanjut.


'Yah, aku sendiri kan sekarang belum bisa menggunakan sihir, jadi wajar kalau dia menganggap ucapanku mengada-ngada.'


Meskipun dia paham kehidupan masa lalunya, untuk saat ini dia memang belum mempelajari sihir.


Leo, yang terkekeh geli, tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.


Mata Chelsea ikut membelalak lebar.


Terdapat bangkai-bangkai Troll berserakan di sekitar tempat itu.


Namun, kondisi bangkai-bangkai tersebut terlihat sangat aneh.


Tubuh mereka tampak mengeriput seolah-olah seluruh vitalitas di dalamnya telah disedot habis.


"Makhluk apa yang menyerang mereka? Bukankah seharusnya tidak ada monster penyedot vitalitas di Forest of Monsters?"


Chelsea memeriksa bangkai-bangkai itu dengan ekspresi bingung.


Leo, yang menyentuh salah satu bangkai tersebut, menyipitkan matanya.


'Jangan-jangan.'


"Untuk saat ini, prioritas kita adalah bergabung dengan Celia dan kakakmu. Kurasa aku mulai bisa menebak apa kriteria kelulusan dari ujian ini."


"Eh? Apa itu?"


Melihat Chelsea yang memasang ekspresi terkejut, Leo tersenyum penuh arti.


"Menaklukkan dunia ini."

Komentar

Options

Not work with dark mode
Reset