Chapter 16
Di pusat Lumeren Academy yang sangat luas, terdapat sebuah lapangan parade raksasa bernama Erek. Tempat ini selalu digunakan setiap kali sekolah menggelar acara-acara besar, terutama upacara penerimaan siswa baru dan kelulusan.
Saat ini, seluruh siswa Lumeren telah berkumpul di Erek.
"Kalian sudah sampai?"
"Basah kuyup, sesuai dugaan?"
"Puhahaha! Lihat! Kan sudah kubilang tidak akan banyak anak yang selamat tanpa goresan!"
Beberapa senior yang jahil melontarkan cemoohan. Sejumlah siswa baru yang berharga diri tinggi gemetar menahan malu, tetapi tidak ada satu pun yang berani membalas.
Di tengah situasi tersebut, Artian, yang memimpin para siswa baru ke tengah lapangan Erek, bersuara.
"Berbarislah berdasarkan wilayah masing-masing. Dan untuk para peraih peringkat pertama, silakan maju ke depan sebagai perwakilan."
Mendengar instruksi itu, para siswa membentuk lima barisan yang rapi. Tentu saja, jumlah siswa dari Wilayah Barat terlihat mencolok paling sedikit.
Para profesor yang mengawasi dari atas podium mendecakkan lidah mereka.
"Haruskah kukatakan, 'Seperti yang diharapkan dari Profesor Albi'? Jumlah siswa dari Wilayah Barat benar-benar terlalu sedikit."
Salah satu profesor menyindir Albi yang duduk dengan wajah datar tanpa ekspresi. Namun, Albi bahkan tidak mengedipkan mata sedikit pun.
Leo berdiri di barisan paling belakang.
"Ah! Leo-oppa! Halo!"
Tepat saat itu, Chelsea Rwallin, yang sempat setim dengannya saat ujian masuk, mendekat dengan senyuman cerah.
"Tadi kencang sekali kekacauannya, aku baru bisa bertemu Oppa sekarang!"
Leo terkekeh melihat Chelsea yang menyapanya ramah dengan mata berbinar-binar.
"Pergilah berbaris dulu."
"Oke!"
Chelsea, yang berdiri di samping Leo, terus mengoceh riang.
"Aku sangat terkesan setelah melihat Leo-oppa bertarung waktu itu, jadi aku berpikir untuk mengambil kelas Departemen Ksatria sebagai jurusan sekunder."
"Hmm? Kalau tidak salah, tujuannmu bukannya menjadi seorang Battle Mage ?"
"Yup!"
Mendengar jawaban spontan itu, Leo menatap Chelsea sejenak lalu berkata, "Kalau begitu, bukankah kau seharusnya lebih fokus pada latihan sihir dulu?"
"Hah? Sihirku kan sudah cukup? Kenapa Oppa bilang aku harus lebih fokus pada latihan sihir?"
Tepat saat Leo hendak menjawab Chelsea yang memiringkan kepalanya bingung...
"Upacara penerimaan akan segera dimulai. Pertama-tama, kita akan mendengarkan kata sambutan dari Kepala Sekolah."
Chelsea langsung bungkam begitu profesor di atas podium yang memimpin acara membuka suara. Bersamaan dengan itu, seorang pria tua muncul di tengah-tengah podium.
Para siswa baru memasang ekspresi tegang. Tidak ada satu pun orang di sini yang tidak mengenal pria tua itu—sosok yang dipuja sebagai yang terkuat di antara para pahlawan manusia saat ini: Sword Saint, Kalian Baedan.
"Kalian telah berjuang keras untuk sampai ke sini, para rekrutan muda," ucap Kalian, memancarkan wibawa yang sama sekali tidak mencerminkan usianya. "Aku tidak akan bicara panjang lebar. Aku hanya akan memberi tahu kalian tentang jalan yang harus kalian tempuh!"
Bang—!
Kalian menghantamkan tinjunya ke podium.
"Jika kalian adalah orang-orang yang bermimpi menjadi pahlawan, selalu pertaruhkan diri kalian! Dan lampaui batas kalian! Bagi mereka yang tidak sanggup!"
Para siswa baru menahan napas mendengar teriakan sang Sword Saint.
"...Tidak dibutuhkan di Lumeren."
Meninggalkan kalimat tersebut, dia melangkah turun dari podium tanpa ragu-ragu sedikit pun.
Keheningan melanda sejenak. Dan kemudian...
"Waaaaaaaah!"
Sorakan bergema dahsyat meledak dari para siswa baru. Pidato singkat yang bahkan sulit disebut sebagai pidato biasa itu memiliki daya pikat dahsyat untuk membakar semangat mereka.
Sword Saint, yang telah berbalik membelakangi mereka, memasang wajah kaku ke arah para profesor lalu diam-diam membuat simbol V dengan jari-jarinya.
Melihat pemandangan itu, beberapa profesor langsung memegang kepala mereka pusing.
'Kepala Sekolah...!'
'Padahal kalau beliau tetap bersikap tegas begitu, kelihatannya bakal keren sekali!'
'Hiks, hiks, semakin lama aku hidup sebagai profesor Lumeren, semakin hancur fantasi pahlawanku tentang sang Sword Saint.'
Para profesor tahu persis, suka atau tidak: fakta bahwa sang Sword Saint—pahlawan terbesar yang dikagumi semua orang—sebenarnya adalah seorang pria tua yang sangat konyol dan santai.
Profesor yang memimpin acara juga memegang kepalanya sebentar sebelum melanjutkan.
"Selanjutnya, kita akan mendengarkan pidato dari perwakilan siswa baru."
Mendengar kata-kata itu, semua orang di lapangan Erek memusatkan perhatian pada sang profesor.
Perwakilan siswa baru.
Artinya, sosok yang mutlak berada di puncak di antara para siswa baru Lumeren, tempat berkumpulnya para genius. Secara harfiah, seorang kandidat pahlawan tangguh di antara ratusan kandidat pahlawan lainnya!
Para peraih peringkat pertama yang duduk di barisan paling depan juga memasang ekspresi tegang.
Di bawah tatapan ribuan mata, profesor pemimpin acara membuka mulutnya.
"Perwakilan siswa baru, Leo Plov."
"Leo Plov?"
"Siapa itu?"
"Perwakilan siswa baru bukan salah satu dari peraih peringkat pertama?"
Para siswa baru saling berpandangan dan berbisik-bisik. Enam peraih peringkat pertama yang duduk di depan juga tampak kebingungan. Bahkan para profesor yang tidak tahu siapa perwakilan siswa baru menunjukkan reaksi terkejut.
Tepat saat itu, profesor pemimpin acara berseru, "Siswa Leo Plov. Silakan naik ke atas podium."
Mendengar panggilan itu, Leo berdiri dari tempat duduknya.
Mata Chelsea membelalak lebar menatap Leo. Cal, yang duduk di barisan lain, melongo tak percaya. Adalah hal yang sangat tidak biasa bagi seorang siswa biasa—yang bukan peraih peringkat pertama—untuk menjadi perwakilan.
Para senior yang menonton juga menunjukkan reaksi heran. Tatapan semua orang tertuju lurus pada Leo.
'Aku, perwakilan siswa baru?'
Leo sendiri merasa heran. Memang benar ia menunjukkan performa yang mengesankan selama ujian masuk, tetapi ia mengira Celia dan Abad akan lebih unggul dalam perolehan skor. Dua orang yang berkinerja paling menonjol pada ujian nyata adalah mereka berdua, itulah mengapa mereka meraih posisi pertama bersama.
Naik ke atas podium dengan rasa bingung, mata Leo berpapasan dengan Albi, sang penguji ujian wilayah barat. Albi, yang tadinya berwajah datar, menyunggingkan senyuman tipis. Sepertinya ini adalah rekomendasi langsung dari sang penguji.
Mengebelakangkan rasa penasarannya, Leo berdiri di depan podium. Sebuah naskah pidato telah disiapkan di sana.
"Para profesor dan senior yang terhormat. Terima kasih telah menyambut kami para siswa baru dengan hangat. Mulai saat ini, kami para siswa baru, sebagai masyarakat Lumeren yang bangga..."
Leo membaca pidato tersebut tanpa sedikit pun menunjukkan tanda-tanda gugup. Tatapan yang dipenuhi berbagai emosi mengarah padanya: keraguan dan rasa penasaran atas fakta bahwa siswa biasa menjadi perwakilan melangkahi para juara utama, serta rasa iri dan cemburu karena ia merebut posisi yang begitu terhormat.
"...Perwakilan siswa baru, Leo Plov."
Prok, prok, prok, prok, prok—!
Tepuk tangan riuh membahana begitu pidato berakhir.
"Bagus sekali, Siswa Leo. Nah, sebagai perwakilan siswa baru, silakan bagikan sepatah kata tentang aspirasimu."
Profesor pemimpin acara berbicara dengan senyuman jahil.
Aspirasi perwakilan siswa baru—itu adalah semacam tradisi pada upacara penerimaan Lumeren. Sebuah kesempatan untuk menyampaikan sepatah kata kepada seluruh penghuni sekolah setelah berhasil menyingkirkan persaingan tak terhitung jumlahnya. Namun di sisi lain, ada juga niat terselubung untuk memprovokasi siswa baru lainnya.
'Apakah ini bentuk provokasi untuk anak-anak yang melewatkan posisi ini?'
Leo terkekeh pelan.
Karena mereka semua adalah orang-orang yang terbiasa menjadi yang terbaik, tentu ada banyak siswa yang mengincar posisi ini.
Leo memutar tubuhnya dan menatap lurus ke arah seluruh siswa baru.
"Saya perwakilan siswa baru, Leo Plov."
Profesor pemimpin acara memasang wajah kecewa melihat salam sopan Leo.
'Perwakilan tahun ini tipe siswa yang pendiam, ya. Yah, aspirasi yang anggun layaknya siswa teladan juga tidak buruk.'
Sebenarnya, bahkan jika kau menempatkan siswa berpemarah di posisi ini sekalipun, tidak mudah untuk berbicara sembarangan.
'Tahun ini upacaranya bakal berjalan lancar...'
"Jika kalian mengincar posisi ini, datang dan rebutlah."
Mata profesor pemimpin acara mendadak melotot lebar. Mulut para siswa baru lainnya menganga tak percaya.
Leo tersenyum tipis lalu melangkah turun dari podium. Ia menangkap niat sekolah dengan tepat dan mengikutinya.
'Tapi tetap saja, itu terlalu berlebihan!'
Profesor pemimpin acara menjerit dalam hati.
Tawa geli juga meledak di antara para senior.
"Upacara penerimaan tahun ini benar-benar legendaris, ya?"
"Adik kelas yang sangat lancang telah masuk."
Perhatian semua orang terpusat sepenuhnya pada Leo. Meskipun begitu, Leo melangkah kembali ke tempat duduknya tanpa mengedipkan mata sedikit pun.
Saat kembali ke barisannya, matanya berpapasan dengan Celia. Celia, yang sempat menatap kosong ke arah Leo, mendengus pelan lalu mengangkat dagunya. Abad, yang duduk di sampingnya, melemparkan senyuman pada Leo.
"Wah! Wah! Leo-oppa ternyata perwakilannya?"
Saat Leo duduk kembali, Chelsea berbisik dengan heboh.
"Bukankah kasihan Abad-oppa tidak mendapatkannya?"
"Memang kasihan Kakak tidak mendapatkannya, tapi aku dan Kakak kan melihat langsung bagaimana Leo-oppa bertarung!"
Ehem! Chelsea menaikkan dagunya sambil bersedekap tangan dan mengangguk-angguk.
"Dia tidak mengucapkannya langsung, tapi Kakak pasti juga mengakui kehebatan Leo-oppa."
"Begitukah?"
Leo melirik bagian belakang kepala Abad yang duduk di kursi depan.
Beberapa saat kemudian, waktu berlalu dan upacara penerimaan pun berakhir.
Setelah upacara penerimaan selesai, para siswa baru langsung dipandu menuju asrama.
Asrama dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Masing-masing asrama terlihat seperti kediaman megah yang berdiri berdampingan. Terdapat taman di bagian tengah, dan lapangan latihan terletak di area sekitarnya.
Di tempat para siswa baru berkumpul, salah satu pengelola asrama berbicara.
"Pembagian kamar asrama adalah satu orang per kamar. Dan ada jam malam. Untuk hal ini, menginap di luar diizinkan jika ada alasan khusus. Namun..."
Pengelola asrama menghela napas pendek.
"Memasuki asrama lawan jenis tanpa izin dilarang keras."
Wajah pengelola asrama berubah tegas.
"Saya tahu betul kalian berada di usia yang sedang tertarik pada lawan jenis. Tapi tolong jaga batas kalian."
"Baik~"
Para siswa baru menjawab dengan riang.
Pengelola asrama mengukir senyum pahit atas jawaban itu. Meskipun mereka menjawab seperti ini, mereka adalah remaja berenergi tinggi, jadi selalu saja ada siswa yang melanggar aturan sekolah ini setidaknya sekali setahun.
'Tentu saja, mereka tidak pernah berani melakukannya lagi setelah itu.'
"Sekarang, silakan cari barang bawaan kalian, kemasi di kamar asrama yang telah ditentukan, dan berkumpul kembali di sini dalam waktu 1 jam."
Ucap pengelola asrama sambil menunjuk ke arah tumpukan barang bawaan yang telah diantarkan selama upacara penerimaan.
Para siswa baru mengobrol dengan teman dekat mereka dan mencari tas masing-masing. Lalu mereka memeriksa kamar asrama yang ditugaskan.
"Oh! Leo! Kau dan aku dapat kamar yang bersebelahan?"
"Benarkah? Baguslah kalau begitu."
Leo tersenyum mendengar ucapan Cal yang bersemangat.
"Ngomong-ngomong, aku kaget sekali! Aku tidak tahu kalau kau yang bakal jadi perwakilan siswa!"
"Ya, aku juga tidak tahu."
"Performatamu saat ujian pasti sangat luar biasa, kan?"
"Sepertinya penguji melihatku dengan sangat baik."
Leo dan Cal membawa barang bawaan mereka dan naik ke lantai dua yang telah ditentukan.
Tatapan siswa baru lainnya tertuju pada mereka berdua.
"Cowok itu perwakilan siswa baru?"
"Kenapa dia yang jadi perwakilan melangkahi para peraih peringkat pertama? Apa dia punya orang dalam?"
"Kau pikir kau bisa jadi perwakilan cuma karena punya koneksi?"
'Aku langsung jadi pusat perhatian sejak hari pertama.'
Setelah berganti pakaian di kamar dan berkumpul kembali, mereka menghabiskan waktu yang cukup sibuk.
Pertama adalah pembagian kelas.
Lumeren pada dasarnya menyelenggarakan kelas berorientasi jurusan, tetapi ada juga kelas umum. Untuk kelas-kelas umum tersebut, mereka mengambilnya bersama teman sekelas. Untuk tahun pertama, terdapat sepuluh kelas dari Kelas 1 hingga Kelas 10. Di antaranya, Leo dimasukkan ke Kelas 5 bersama Chelsea dan Cal.
Setelah itu, mereka dipandu melihat-lihat fasilitas di dalam Lumeren Academy. Sebagai salah satu dari hanya empat akademi militer pahlawan di dunia, area Lumeren Academy sangatlah luas. Membutuhkan waktu setengah hari hanya untuk mengelilingi fasilitas-fasilitas pentingnya.
Ketika mereka kembali ke asrama setelah mengelilingi sekolah, kepala asrama sudah menunggu.
"Senang bertemu dengan kalian. Saya Obelio, kepala asrama yang bertanggung jawab atas asrama tahun pertama. Kalian telah bekerja keras hari ini. Mulai besok, kelas sementara akan dimulai selama satu minggu."
Selama periode kelas sementara, mereka bebas mengambil kelas apa pun yang mereka inginkan. Bahkan jika kau mengincar Departemen Ksatria, kau tetap boleh mengambil kelas Departemen Sihir atau Pemanggilan. Dalam prosesnya, para siswa terkadang menemukan bakat terpendam yang tidak mereka ketahui sebelumnya.
"Kelas dimulai besok, jadi jangan terlalu bersemangat dan tidurlah lebih awal hari ini."
Ketika Profesor Obelio membubarkan barisan, para siswa menuju ke kamar asrama masing-masing.
"Haa~ Hari ini benar-benar melelahkan!"
Ucap Cal sambil meregangkan tubuhnya yang lelah.
"Aku sangat menantikan hari esok! Mau bagaimanapun, Leo! Tidur yang nyenyak!"
"Ya, tidur yang nyenyak."
Setelah saling menyapa, mereka masuk ke kamar asrama masing-masing.
Leo, yang masuk ke kamar, berganti pakaian tidur dan naik ke atas tempat tidur. Merasakan kenyamanan kasur, ia tertidur lelap.