The Legendary Hero is an Academy Honors Student Chapter 15

Posted by Admin, Released on

Option



Chapter 15

"Kalian pikir kalian ini apa?"


"Hah?"


"Kalian adalah siswa Lumern. Dengan kata lain, Kandidat Pahlawan! Jika kalian berada dalam krisis, bukankah prioritas utama kalian adalah memikirkan cara untuk mengatasinya sendiri?"


Para siswa tersentak kaget mendengar bentakan Ain.


Tepat pada saat itu, sosok Leo yang bergerak tanpa ragu-ragu, langsung menarik perhatian Ain.


"Setidaknya ada satu anak yang lumayan."


Tentakel Kraken melesat naik dan menerjang mereka dengan kecepatan tinggi.


Seogeok—!


Leo menghunus pedangnya dan menebas putus tentakel tersebut.


Cheolpeok—!


Leo menendang tentakel Kraken yang jatuh ke geladak dan menggeliat itu agar tercebur kembali ke danau, lalu berteriak.


"Jangan takut dengan ukurannya! Kalian semua di sini cukup mampu untuk menangani ini!"


Tatapan Leo tertuju tepat pada Celia dan Chloe.


"Hmph! Siapa bilang aku takut?" Chloe mendengus kesal.


Dan Celia ikut menghunus pedangnya seolah tidak mau kalah.


"Kau pikir aku ini siapa, Leo?"


Hwareureuk—!


Aura api, simbol kebanggaan Zerdinger, mekar dari pedangnya.


"Kau pikir aku bakal takut pada cumi-cumi seperti ini......!"


Chwaaaaak!


"Kyaaaaaak!"


Meriam air mendadak menyembur dari ujung tentakel Kraken dan menelan tubuh Celia.


Gadis itu memang berhasil bertahan menggunakan Aura Armor , tetapi dalam sekejap penampilannya berubah seperti tikus basah kuyup.


"Itu memang kebiasaan Kraken. Ia bereaksi terhadap hawa panas dan menembakkan meriam air."


Leo menyentil dahi Celia, berusaha keras menahan tawanya, " Kkeuk-kkeuk— ".


"Sepertinya kau masih kurang pengalaman, ya?"


"Ugh—! Kita ini kan seumuran! Jangan menceramahiku soal pengalaman!" balas Celia berteriak, mengusap dahinya dengan wajah memerah menahan malu.


Sementara itu, sang Kraken kembali menerjang.


Mata Celia menyipit tajam.


"Dasar cumi-cumi keparat! Akan kuubah kau jadi cumi-cumi suwir!"


Hwaak—!


Pedang Celia menorehkan lintasan yang mencolok di udara.


Pabababak!


Tentakel-tentakel Kraken yang terpotong halus kini berserakan di geladak.


Leo tersenyum pada Celia—yang membalas menatapnya dengan ekspresi "Bagaimana? Hebat, kan!"—lalu ikut mengayunkan pedangnya.


Buwang—!


Bersamaan dengan suara angin yang menderu dahsyat, sisa tentakel Kraken terpotong jauh lebih halus lagi daripada potongan Celia dan bertebaran di udara.


"Grr! Aku tidak mau kalah!"


Merasa terprovokasi oleh pemandangan itu, percikan api memancar dari mata Celia.


"Ilmu pedang kalian berdua benar-benar luar biasa, ya?"


Sementara itu, Chloe mengangkat tongkat sihirnya dan merapal mantra dalam Bahasa Rune.


Jjeojeojeojeong—!


" Icicle ."


Partikel-partikel es langsung berkumpul di udara dan membentuk wujud paku es raksasa.


Saat Chloe melepaskan mantranya, Icicle itu pun melesat deras.


Peoeok—! Jjeojeojeojeok—! Jjjaenggeurang!


Saat sihir itu meledak, tentakel Kraken yang membeku hancur berkeping-keping.


"Hohoho! Apa gunanya maju ke depan dan memeras keringat seperti para ksatria itu? Cukup diam di belakang sini dan bermain cerdas... Eeeeek??!"


Chloe, yang tadinya menampakkan senyum sombong, mendadak menjadi target serangan Kraken.


Saat gadis itu kebingungan menghadapi serangan Kraken yang lajunya lebih cepat dari dugaannya, Leo dengan sigap mencengkeram kerah belakang baju Chloe dan menariknya menjauh.


"Penyihir seharusnya tidak banyak tingkah di garis depan."


Seogeok—!


Leo mengayunkan pedangnya dan memotong putus tentakel Kraken tersebut.


"Kraken bereaksi terhadap aliran Mana, jadi gunakan sihirmu dengan hati-hati."


"B-baiklah."


Para siswa baru, yang sempat panik akibat serangan mendadak itu, mulai menguasai diri dan melancarkan serangan balasan.


Kraken memang tergolong monster tingkat tinggi, tetapi para siswa Lumern bukanlah sekelompok orang lemah yang hanya akan diam menerima nasib tanpa perlawanan.


Ain, yang mengamati pemandangan itu dari belakang, melengkungkan sudut bibirnya.


'Siswa baru angkatan tahun ini sangat luar biasa.'


Profesor Ain, yang tadinya memarahi para siswa baru, kini merasa sangat puas.


Danau ini memang terkenal sebagai sarang bagi berbagai macam monster air. Oleh karena itu, serangan monster air saat pelayaran sudah dianggap layaknya semacam acara tahunan.


Setiap siswa yang diterima di Lumern pasti memiliki bakat yang luar biasa. Dan dengan berhasil memasuki Lumern—akademi paling bergengsi di dunia—mereka telah membuktikan kemampuan mereka secara nyata.


Kemampuan, latar belakang keluarga, dan kredensial akademis. Siswa baru yang merasa tidak kekurangan apa pun dalam aspek-aspek tersebut sudah pasti akan menjadi sombong.


'Dengan pola pikir seperti itu, mereka tidak akan bisa mengikuti kelas Lumern dengan baik nantinya.'


Para siswa baru itu tidak menyadari satu fakta penting.


Fakta bahwa mereka saat ini sekadar baru memenuhi 'kriteria minimum' untuk belajar di Lumern.


Itulah mengapa mereka perlu diberikan semacam teguran penyadaran yang keras, dan itulah alasan utama mengapa pihak Lumern membiarkan serangan monster air tersebut terjadi.


Tentu saja, mereka tidak membiarkan para siswa melawan monster itu tanpa jaring pengaman sama sekali.


Sebagai buktinya, kerusakan pada lambung kapal—yang biasanya menjadi masalah paling fatal saat diserang oleh Kraken—sama sekali tidak terjadi.


Hanya saja, para siswa baru tentu tidak menyadari hal itu karena sibuk berusaha mati-matian menangkis serangan Kraken di depan mata mereka.


'Seperti dugaanku, performa para siswa peraih peringkat teratas memang luar biasa.'


Tatapan Ain, yang sejak tadi sibuk menilai kemampuan para siswa baru, kini tertuju sepenuhnya pada Leo.


'Mengesankan.'


Secercah kilatan penuh ketertarikan muncul di mata Ain.


Itu adalah ilmu pedang yang sangat bersih tanpa ada satu pun gerakan yang terbuang sia-sia.


Terlebih lagi, pemuda itu memotong tentakel Kraken dengan gerakan yang begitu ringan, seolah-olah ia bisa membaca dan memprediksi pergerakan Kraken dengan sangat jelas.


'Aku harus mengingat anak ini.'


Dilihat dari cara pemuda itu mengayunkan pedangnya, sudah jelas ia mengincar Departemen Ksatria.


Merasa telah menemukan seorang bibit unggul yang luar biasa, Ain tersenyum puas.


Para siswa baru dengan susah payah akhirnya berhasil menumbangkan Kraken tersebut, tetapi serangan monster air sama sekali tidak berhenti sampai di situ.


Seolah-olah pesta perjamuan mewah di atas kapal beberapa saat yang lalu hanyalah mimpi indah belaka, sebuah Parade Monster kini terbentang di hadapan mereka.


Saat sekitar satu jam telah berlalu, para siswa baru semuanya berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan.


Seragam mewah mereka basah kuyup, sekujur tubuh dipenuhi peluh, dan wajah mereka tampak pucat pasi karena kelelahan.


Mereka sibuk bertarung dengan panik menahan gelombang serangan monster yang terus berdatangan tanpa jeda.


"Aku benar-benar tidak bisa bertarung lagi! Mana-ku sudah habis total!"


Chloe, yang terkapar telentang di atas geladak, berteriak frustrasi.


"Ugh...... apa ada yang masih punya Mana Potion tersisa?"


Tanya Cal sambil menoleh ke sekeliling, tetapi tidak ada satu pun siswa yang menjawab.


"Hah— hah—"


Celia terengah-engah berebut udara dan melirik ke arah Leo.


'Dasar monster stamina gila!'


Leo masih berdiri kokoh berjaga di tepi geladak tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun.


Bagaimana bisa pemuda itu memiliki stamina tanpa batas seperti itu padahal mereka seumuran?


"Hoo—!"


Celia menggertakkan giginya, menarik napas dalam-dalam, dan memaksakan diri kembali berdiri di samping Leo.


Tepat saat itulah hal yang ditunggu-tunggu tiba.


"Aku melihat dermaganya!"


"Pertarungan melelahkan ini akhirnya berakhir!"


"Woooooah!"


Sorakan lega meledak dari geladak.


Tidak ada berita yang lebih baik dari ini bagi para siswa yang sudah teramat lelah menghadapi pertarungan yang terasa tak berujung itu.


Beberapa saat kemudian, kapal akhirnya berlabuh di dermaga, dan para siswa berhamburan turun dari kapal seolah sudah muak dengan segalanya.


Sosok yang telah menunggu para siswa baru di dermaga tersebut adalah seorang wanita bertubuh mungil yang mengenakan setelan jas rapi dan kacamata.


"Syukurlah! Sepertinya tidak ada insiden besar yang terjadi!"


Mendengar ucapan riang itu, para siswa merasakan lonjakan rasa kesal di dalam hati mereka.


'Insiden besar apanya! Kami baru saja mati-matian diserang monster!'


Namun tentu saja, tidak ada siswa yang sebodoh itu untuk berani melayangkan protes.


Sebab, jika ada seseorang yang secara resmi datang menyambut para siswa baru, kemungkinan besar orang itu adalah seorang profesor dari Akademi Lumern.


"Profesor Ain. Terima kasih atas kerja keras Anda membimbing para siswa baru di perjalanan! Saya akan mengambil alih panduannya mulai dari sini."


"Dimengerti." Ain mengangguk pelan lalu berkata sembari menatap para siswa baru.


"Saya akan bertanggung jawab atas kelas-kelas Departemen Ksatria tahun pertama pada tahun ini."


Mendengar itu, para siswa yang berminat masuk Departemen Ksatria tampak terkejut.


"Beberapa dari kalian yang masuk Departemen Ksatria akan mengambil kelas saya nanti."


Ain menatap beberapa siswa tertentu, termasuk Leo, lalu menyeringai lebar.


"Bagi mereka yang ingin mencapai tingkat kekuatan yang lebih tinggi, datanglah ke kelasku!"


"Baik, Pak!"


"Dimengerti! Profesor Ain!"


Jawab para siswa Departemen Ksatria dengan lantang.


Profesor Ain, yang tadinya terlihat puas dengan jawaban itu, kini membuat ekspresi penuh makna.


"Dan pastikan kalian mendengarkan baik-baik profesor pembimbing kalian yang ini."


Meninggalkan pesan tersebut, ia melangkah pergi dari tempat itu.


"Nama saya Artian Nier. Saya akan bertanggung jawab atas kelas-kelas Departemen Pemanggilan tahun pertama."


Wanita itu membenarkan letak kacamatanya dan memperkenalkan diri dengan senyuman yang sangat ramah.


"Artian Nier? Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya?"


Celia memiringkan kepalanya bingung.


Jika seseorang cukup berkualifikasi untuk memegang gelar profesor di Lumern, orang tersebut pasti adalah tokoh yang sangat terkenal di bidangnya masing-masing. Namun, ia merasa belum pernah mendengar nama Artian Nier.


"Kalau Artian Nier, beliau sebenarnya cukup terkenal di Wilayah Tengah." Ucap Cal menjelaskan.


"Orang seperti apa dia?"


"Kudengar beliau adalah seorang Spirit Necromancer ?"


" Spirit Necromancer ?"


Celia tampak terkejut.


Sihir Pemanggilan pada umumnya terbagi menjadi tiga bidang utama.


Spirit Arts , yang melibatkan kontrak dengan entitas roh alam.


Phantom Beast Arts , yang melibatkan pemanggilan monster-monster fantasi.


Dan yang terakhir, Spirit Necromancy , yang berpusat pada pemanggilan roh orang mati.


Di antara ketiganya, Spirit Necromancy —yang memanggil kepingan-kepingan eksistensi dari mereka yang telah mati—adalah kemampuan yang sangat luar biasa langka.


'Itu adalah salah satu keahlian Lisinas dulu.'


Karena Spirit Necromancy sepenuhnya berada di ranah kemampuan khusus bawaan sejak lahir, kemampuan itu adalah satu-satunya hal yang bahkan tidak bisa dipelajari oleh Kyle, yang notabene merupakan seorang All-Class .


"Kalau begitu, haruskah kita segera berangkat menuju ke aula upacara penerimaan?" ucap Artian dengan senyuman lembut.


Namun, para siswa langsung melancarkan protes.


"Profesor! Bukankah ada tempat untuk berganti pakaian terlebih dahulu?"


"Benar! Kami tidak mungkin menghadiri upacara penerimaan dengan penampilan kotor dan basah seperti ini!"


Para siswa, yang tadinya bersikap sangat patuh saat berhadapan dengan Profesor Ain, kini berani berteriak memprotes satu demi satu. Bagaimanapun juga, sebagian besar dari mereka adalah siswa dari kalangan bangsawan terhormat.


Saat berhadapan dengan Profesor Ain, mereka merasa sangat terintimidasi oleh wibawa dan julukan "Knight of the Frozen Sea" yang disandangnya.


Tetapi mereka tanpa ragu langsung berani menyuarakan keluhan kepada Artian, yang menurut mereka tidak terlalu terkenal dan memberikan kesan sosok yang rapuh.


"O-oh, bukan begitu! Maksud saya, kita harus mematuhi jadwal yang sudah ditetapkan......"


"Keluarga saya tidak akan pernah mentoleransi saya tampil di acara resmi akademi dengan penampilan seperti gelandangan begini!"


"Betul! Kami diterima di Lumern dengan penuh kebanggaan! Diperlakukan seperti ini rasanya sama sekali tidak masuk akal!"


"Benar! Benar! Kami akan melayangkan protes resmi kepada pihak akademi melalui keluarga kami!"


"S-semuanya?!"


Artian, yang tampaknya memang memiliki sifat bawaan yang lembut, hanya bisa menyusut mundur, tampak kebingungan tidak tahu harus berbuat apa menghadapi hujan protes dari para siswa tersebut.


Para siswa, merasa berada di atas angin setelah melihat reaksi lemah itu, semakin menjadi-jadi meninggikan suara mereka.


"Sepertinya kita harus menghentikan mereka." Celia mengerutkan dahi merasa risih dengan tingkah para siswa.


Leo malah terkekeh geli. "Kukira kita tidak perlu repot-repot."


"Apa?"


Artian menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dan sesaat kemudian......


"Dasar bocah-bocah keparat! Sejak tadi kubiarkan saja kalian merengek, sekarang kalian pikir aku ini orang yang bisa kalian injak-injak seenaknya?! Berani-beraninya kalian, siswa baru bau kencur, menginjak kepala profesor dan bertingkah kurang ajar!"


Sebuah raungan membahana menggelegar keluar dari mulut Artian, yang mendadak mendongakkan kepalanya dengan cepat.


Berbeda jauh dengan atmosfer canggung dan lembut beberapa saat yang lalu, kilatan penuh niat membunuh kini memancar tajam dari kedua belah matanya.


Para siswa yang sejak tadi meninggikan suara mereka sontak terkesiap kaget dan terdiam.


Namun, salah satu siswa laki-laki yang masih belum sepenuhnya menyadari situasi berseru membalas.


"Bahkan jika Anda seorang profesor, kata-kata kasar semacam itu tidak bisa ditoleransi......"


"Coba lihat bajingan satu ini? Kau rupanya masih belum paham dengan situasinya, ya?"


Kwak!


"Hah? Eh—hah?"


Artian langsung melesat dan mencengkeram kerah baju siswa laki-laki itu lalu mengangkat tubuhnya dengan satu tangan sembari mengukir senyuman membunuh di wajahnya.


Siswa laki-laki itu memiliki tubuh yang cukup bongsor, setinggi satu kepala lebih tinggi dibandingkan rata-rata siswa baru lainnya.


Namun, Artian yang memegang kerahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan atau keberatan sedikit pun.


Sebaliknya, pendaran energi keemasan mulai mengalir perlahan keluar dari tubuhnya.


"Hah? A-Aura?"


" Dual Class ?"


Para siswa kini dilanda ketakutan yang sesungguhnya. Siswa laki-laki yang dicengkeram kerahnya itu juga langsung memucat pasi.


Artian melempar tubuh siswa laki-laki berbadan besar itu dengan mudah ke arah tepi danau.


"Uaaaaaak!"


Pungdeong—! Cheolpudeok! Cheolpudeok!


Siswa malang yang jatuh tercebur ke dalam danau itu meronta-ronta dengan panik.


Artian menatap para siswa yang tersisa dan memperingatkan mereka dengan tatapan membunuh.


"Jika ada yang berani memberontak lagi kepadaku mulai dari detik ini, aku tidak akan segan-segan......!"


Namun, bahkan sebelum Artian sempat menyelesaikan kalimat ancamannya, ekspresi wajahnya kembali berubah.


"Duh, ini merepotkan."


Kali ini, dengan perubahan atmosfer yang terasa sedingin es, ia menghela napas panjang dan mengibaskan tangannya dengan ringan.


Lalu, sekejap kemudian, giliran Mana berwarna keemasan yang meledak dari tubuhnya.


Artian menyelamatkan siswa yang tercebur ke dalam air tadi menggunakan sihir.


Mata para siswa terbelalak semakin lebar tak percaya.


Wanita itu jelas-jelas diperkenalkan sebagai profesor khusus Departemen Pemanggilan, tetapi ia baru saja memamerkan penguasaan atas Aura sekaligus sihir murni!


"Sudah kuduga."


"Kau tahu soal kemampuan itu?" Celia, yang ikut terkejut, langsung bertanya penuh rasa ingin tahu begitu mendengar gumaman Leo.


"Dia membiarkan roh orang mati merasuki tubuhnya secara langsung. Perubahan kepribadian mendadak itu disebabkan oleh roh yang sedang menjalin kontrak dengannya."


" Spiritism ? Itu kan kemampuan yang selama ini cuma pernah kudengar dari legenda dan cerita!"


Celia berseru takjub melihat wujud dari kemampuan yang luar biasa langka itu di depan matanya, bahkan di kalangan para Spirit Necromancer yang sudah langka sekalipun.


Memang, peringatan Profesor Ain yang menyuruh mereka untuk mendengarkan baik-baik profesor satu ini bukanlah bualan semata.


"Maaf, sungguh maafkan saya semuanya. Roh-roh yang menjalin kontrak dengan saya akhir-akhir ini memang mudah sekali tersulut emosinya!"


Artian, yang tampaknya telah kembali ke kepribadian aslinya, meminta maaf dengan panik kepada mereka. Namun, para siswa kini hanya bisa bersikap sangat diam dan berhati-hati.


Sebab, mereka langsung menyadari secara insting bahwa profesor bertubuh mungil di hadapan mereka ini, meskipun tidak memiliki ketenaran yang mencolok layaknya Ain, adalah sosok kuat yang tak mungkin sanggup mereka lawan.


Di tengah suasana hening dan canggung tersebut, Artian berkata dengan senyuman yang kembali cerah.


"Bagaimanapun juga, semuanya! Mari kita berangkat menuju upacara penerimaan!"


"Baik......"


Para siswa kini hanya bisa menjawab dengan nada lesu dan pasrah sembari terus mengawasinya dengan penuh rasa waspada.


Komentar

Options

Not work with dark mode
Reset