Chapter 5: Si Figuran Tidak Sudi Membiarkan Kehancuran
"Katanya tempat pensil Hazaki-san hilang ya?" "……Terus?" "Hari ini aku meminjamkan punyaku sih, tapi rasanya aku mau bantu carikan deh."
Saat istirahat makan siang, aku sedang makan bersama Akito dan Ujiya. Shinori sendiri sepertinya memilih makan sendirian di bangku taman luar. Yah, wajar saja kalau dia tidak mau berada di dalam kelas hari ini. Khususnya hari ini.
Aku bertanya pada Akito yang sedang mengerang bingung. "Jadi kamu mau bagaimana?" "Aku sudah lapor ke wali kelas, terus aku juga minta tolong ke pengurus OSIS yang memegang bagian barang hilang untuk langsung mengabari kalau tempat pensilnya ketemu." "Tapi memangnya tidak ada kemungkinan kalau Hazaki-san cuma lupa bawa dari rumah? Menurut gue sih ada kemungkinan ke sana ya?" "Benar juga ya."
Akito tampak manggut-manggut menyetujui ucapan santai Ujiya. Namun sayang sekali, ini murni kasus pencurian. Aku tahu persis siapa pelakunya, dan apa yang akan dilakukan pelaku setelah ini.
"Apa kalian tidak berpikir kalau tempat pensil itu sengaja dicuri?"
Tanpa sadar kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
"Y-Yah, bukannya gue bilang itu mustahil sih…… tapi masa iya?" "Kalau menurutku sih tidak mungkin. Lagipula, tidak ada alasan sama sekali buat orang-orang jahat pada Hazaki-san."
Ucapan Akito benar-benar naif dan sok suci. Alasan untuk membenci seseorang itu bisa dibuat-buat seenaknya oleh pihak lawan. Sama sekali tidak butuh pembenaran yang masuk akal.
"Ya sudah, hari ini kita seneng-seneng aja yuk! Kita ajak Hazaki-san sekalian." "Boleh juga. Nanti kucoba ajak deh."
Di ruangan ini, cuma aku seorang yang merasakan keseriusan masalah ini. Dan kenyataan bahwa situasi ini bisa terjadi…… sedikit banyak juga merupakan akibat dari campur tanganku.
"……Sepertinya aku sendiri yang harus bergerak."
Aku meremas bungkus roti lapis yang baru saja kuhabiskan. Yah, lagipula aku sudah menyiapkan rencanaku sendiri.
◇
Di game 'Sakuchiru', jujur saja Hazaki Shinori adalah heroine yang paling kubenci.
Waktu pertama kali mengalihkan jalan ceritanya saat semester satu tingkat kuliah di kehidupan sebelumku, mata ini dibuat terbelalak. Dia adalah cewek menyebalkan yang bakal nekat bunuh diri seperti anak kecil yang sedang mengamuk hanya karena cowok yang disukainya tidak bisa menjadi miliknya. Sama sekali tidak memikirkan perasaan heroine lain maupun sang protagonist yang ditinggalkan. Dia tidak pernah mendoakan kebahagiaan siapa pun, dan kalau dia tidak terpilih, dia bakal menyeret dan merusak route heroine lain. Bahkan, cuma Shinori satu-satunya heroine yang gambaran gangguannya muncul secara eksplisit di individual route heroine lain. Tiap kali melihat sprite karakternya di layar, aku selalu merasa muak.
'Cewek egois macam apa ini!? Penulis naskah yang bikin cerita sama tim produksi yang meloloskan konsep begini otaknya pada geser semua ya!?'
Malam itu, aku berteriak frustrasi bersamaan dengan pupus gairahku. Meski setelahnya aku langsung sadar, 'Ngapain coba aku marah-marah gini……' lalu memakai celanaku kembali, tapi mengesampingkan hal itu…… Aku memang secara terang-terangan membenci Hazaki Shinori.
Lagian aneh banget, kan? Happy End bagi cewek-cewek lain di game ini justru berakhir menjadi Bad End bagi cewek ini! Memang sih game ini dicap sebagai game yang depressing, tapi cerita cewek ini benar-benar tidak ada penyelamatannya sama sekali. Sama sekali tidak ada poin yang bikin tersentuh atau menangis. Memang sih ada otaku garis keras Shinori yang sok bijak bilang: "Justru karena ada route lain yang tragis, keharuan di route Shinori jadi makin terasa, tahu!" Tapi jujur saja, aku tidak bisa memahami pola pikir begitu. Dibandingkan heroine lain, pengembangan karakternya terasa tipis, dan jujur aku tidak paham kenapa cewek ini yang terpilih jadi cover girl di sampul game. Membuat eroge dengan main heroine yang bikin emosi itu maksudnya apa coba? Visual sprite-nya di dalam game juga kelihatan agak beda dan mengecewakan dibanding gambar sampulnya. Lakukan penipuan visual begini di dunia malam saja, jangan di game! Ini sih sudah masuk kategori penipuan. Tingkat kekesalanku waktu itu sudah sampai di tahap ingin memberi ulasan Bintang 1.
Tapi…… pandanganku berubah. Citra cewek bernama Shinori ini di dalam kepalaku sudah bergeser sepenuhnya. Soalnya…… cewek ini aslinya imut banget.
"Baju yang kemarin gimana?" "Yang gaun sama jaket itu ya?"
Di waktu senggang sebelum jam pulang sekolah. Saat aku sedang bosan, Shinori berjalan menghampiri dan mengajakku ngobrol. Sambil mengingat sesi penilai busana mendadak yang terjadi di chat beberapa hari lalu, aku menyahutnya.
"Memangnya gaya begitu oke ya menurut selera cowok?" "Tanya saja sama Suga sana……"
Meski kencannya sukses, ntah kenapa Shinori malah kelihatan tidak puas. Aku menatapnya dengan mata sepet. Lagian ditanya begitu aku juga bingung, dan tidak ada untungnya juga buatku untuk menjawab. Lagipula, aku belum lupa lho ya soal kejadian di mana dia mengabaikan pilihanku bulat-bulat kemarin.
Melihat ekspresi cemberutku, Shinori malah tertawa geli dengan gembira. "Habisnya kalau tanya ke orang itu, jawabannya cuma 'cantik' doang sih." "Kalau mau pamer kemesraan mending pulang sana." "Tapi kalau Toyono-kun, kayanya bakal jujur mencela pilihan bajuku kan?" "Hei, gini-gini aku juga masih punya perasaan dan tenggang rasa ya?"
Mengingat kejadian chat waktu itu, rasanya aku baru saja dicap sebagai cowok yang tidak peka secara halus. Benar-benar tuduhan yang tidak berdasar.
Tapi terlepas dari hal itu, dia kelihatan lebih ceria dari perkiraanku. Kusangka dia bakal terpuruk gara-gara insiden tempat pensil, tapi dia malah mendatangi dan mengajakku bicara dengan ekspresi wajar. Mungkin rasa tertekan tadi siang sudah mulai mereda, atau mungkin karena Akito sempat menghibur dan perhatian padanya, sehingga kekuatan cinta berhasil menstabilkan emosinya.
Saat aku sedang membatin begitu, Shinori mendadak tersenyum jahil.
"Terus aku mau tanya dong, kenapa waktu itu kamu enggak memilih yang gaun putih?" "Yah…… dibanding kelihatan imut anggun, aku lebih mencari unsur aura seksi terselubung di balik gaya kasualnya sih."
Jaket denim di bagian atas memang bikin kelihatan dewasa, tapi yang paling oke adalah perpaduan rok spans-nya. Kain ketat yang mempertegas lekuk tubuh itu benar-benar memanjakan mata. Kalau melihat cewek pakai baju begitu di jalanan, refleks mata ini pasti bakal melirik ke sana.
Mendengar jawabanku, Shinori cuma melontarkan satu kata: "Jijik." "……Rok spans itu padahal bagus tahu." "Kok bisa-bisanya kamu membela diri sejauh itu padahal jawabannya sarat mesum?"
Aku bungkam, tidak bisa membalas kata-katanya. Cukup menyakitkan. Apakah aku yang tergiur hal mesum ini posisinya lebih rendah dibanding robot pemuji seperti Akito? Merasa puas setelah menjahiliku, aku menatap punggung Shinori yang berjalan pergi dengan suasana hati yang mendadak bagus.
"……Tentu saja, aku juga tidak mau melihat cewek itu murung dan hancur."
Gumamku pelan sambil menyapu pandangan ke seluruh sudut kelas.
Aku tidak tahu seberapa dalam Shinori menahan rasa sakitnya saat ini, tapi kalau perundungan ini tidak dihentikan hari ini, aku tidak tahu apa yang bakal terjadi ke depannya. Bermain perang urat syaraf begini sangat merugikan. Mentalnya bisa patah kapan saja. Dan jika hari itu tiba lalu dia nekat melompat turun—sambil menyeretku ikut mati bersamanya…… Maka aku tidak keberatan untuk mengambil sedikit risiko.
Di cerita aslinya, Akito tidak pernah memberi hukuman langsung pada geng perundung. Perundungan itu menguap dan berhenti dengan sendirinya seiring Shinori yang mulai membuka diri dan menjadi lebih positif berkat rasa sukanya pada Akito. Tapi…… aku menolak penyelesaian setengah-setengah yang menyisakan rasa ganjal seperti itu. Malahan, kalau boleh jujur, alasan kenapa aku agak kurang sreg dengan skenario heroine bernama Shinori ini mungkin memang berawal dari event umum (common event) yang satu ini. Kalau aku yang turun tangan, akan kubuat masalah ini selesai secara tuntas tanpa ada dendam tersisa.
Mulai sekarang, mari ubah sudut pandangku. Abaikan penyimpangan skenario kecil-kecilan! Toh gara-gara Akito tidak bergerak sesuai porsinya, garis dunia ini sudah terlanjur kacau. Karena setiap langkah sudah melenceng dari karya aslinya, tidak ada salahnya kalau aku mengarahkannya ke hasil yang menguntungkan secara halus, asal garis besar ceritanya tidak berubah.
——Yah, anggap saja semua tindakan yang akan terjadi setelah ini adalah pencapaian atas nama Akito. Bagaimanapun juga, hal yang kuinginkan tetaplah terwujudnya hubungan antara Akito dan Shinori. Bakal merepotkan kalau Shinori sampai tahu aku yang bergerak di belakang layar lalu tingkat kesukaannya padaku malah naik aneh-aneh. Setelah urusan selesai, aku tinggal mengambil tempat pensilnya sesuai alur asli, menyerahkannya pada Akito, lalu membiarkan Akito yang mengembalikannya pada Shinori. Dengan begitu, alur besarnya akan tetap kembali mendekati skenario game. Kalau setelahnya ada ketidakcocokan alur lagi, tinggal kubereskan lagi secara diam-diam.
Selesai bimbingan wali kelas sore. Aku melihat Akito yang berjalan pulang bersama Ujiya, serta Shinori yang berjalan ke luar koridor dengan wajah tanpa ekspresi secara terpisah. Tampaknya Akito dan Shinori tidak pulang bersama. Situasi yang persis seperti prediksiku, sekaligus situasi yang sangat menguntungkan. Kalau begini, aku bisa menyamarkan keberadaanku.
Setelah mengulur waktu sendirian di kelas beberapa saat, aku memastikan situasi sekolah sudah sepi dari murid-murid. Waktu menunjukkan pukul 17:30 sore. Tekadku sudah bulat.
Mulai detik ini, waktu bagi si karakter figuran untuk merekayasa skenario dengan cara licik…… resmi dimulai.