Hamatsu Heroine no Osananajimi ni Tensei shita Ore Chapter 2

Posted by Admin, Released on

Option



Chapter 2: Si Figuran Introvert Mencoba Memperbaiki Tingkat Kesukaan

Dunia eroge adalah tempat di mana jalan cerita bercabang tergantung pada pilihan yang diambil sang protagonist.

Sekali kamu salah memilih, tidak akan ada kesempatan kedua untuk merekayasa atau memperbaiki keadaan di garis dunia tersebut.

Pilihannya hanya dua: menonton jalan cerita itu bergulir tragis sampai Bad End, atau menyerah dan mulai dari awal menggunakan data save yang lain.

Tanpa menyadari betapa besarnya kesalahan yang baru saja dia buat, si protagonist malah tertawa-tawa ceria sambil berjalan keluar kelas bersama teman-teman cowoknya.

Melihat punggungnya yang menjauh, kepalaku mendadak makin pening.

Saat ini juga, kematian Shinori di garis dunia ini sudah dipastikan.

Begitu Akito melewatkan event date pertama, jalan menuju route Shinori sudah tertutup rapat. Itu artinya, di suatu titik nanti cewek ini akan mencoba bunuh diri dengan melompat dari ketinggian.

Dan ketika saat itu tiba, aku juga akan terseret mati bersamanya.

Andaikan Shinori benar-benar nekat melompat, aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa lolos dari maut atau tidak.

Karena gambaran detail mengenai adegan bunuh dirinya tidak pernah dijelaskan secara rinci di game aslinya, satu-satunya cara untuk menekan risiko kematian menjadi nol adalah dengan memaksa jalan ceritanya berubah.

Jujur saja aku enggan, tapi mau bagaimana lagi.

"Selamat pagi."

"……Ah, Toyono-kun."

Saat aku memberanikan diri menyapanya, Shinori menatapku dengan senyuman tipis nan canggung.

Rambut cokelat gelap berpotongan bob pendeknya mengayun halus saat dia menoleh.

Bersamaan dengan itu, tercium aroma samar yang manis.

Melihat penampilannya yang luar biasa menawan meski hanya berrias tipis, aku mengangkat tangan sambil tersenyum.

Sebagai catatan, aku dan Shinori memang sudah menghabiskan waktu di lingkungan yang sama sejak TK, SD, hingga SMP. Tapi kalau boleh jujur, hubungan kami cuma sebatas itu.

Buktinya, meski sudah saling kenal sejak lama, kami masih saling memanggil dengan nama belakang.

Bukan hubungan klise rom-com macam "teman masa kecil sejak bayi yang rumahnya bersebelahan dan keluarganya kenal dekat".

Kami murni cuma sebatas kenalan lama yang kebetulan selalu berada di sekolah yang sama sejak kecil.

"Ada perlu apa?"

Mendengar kata-katanya yang begitu dingin dan jelas-jelas menunjukkan ketidakpedulian, wajahku langsung mengencang seketika.

——Aku sih sudah paham, tapi bukankah jarak emosional antara cewek ini dan aku yang cuma karakter figuran terlalu jauh?

Maksudku, penolakan terselubung khas cewek di dekatnya rasanya begitu kuat sampai-sampai bikin aku mau meler.

Duh, maaf ya sudah berani sok akrab padahal cuma karakter figuran.

Kalau begini caranya, jangankan melangkah lebih jauh, berdiri di dekatnya saja sudah sulit.

Bagaimana caranya aku bisa mematahkan flag kematian cewek ini kalau hubungan awal kami saja sedingin ini? Sejak awal langkahku sudah dijegal.

Tapi, aku tidak boleh menyerah di sini.

Hal pertama yang harus kulakukan adalah membereskan kekacauan akibat komunikasi buruk Akito tadi.

Aku harus memaksa tingkat kesukaan Shinori terhadap Akito yang sudah anjlok ke dasar bumi untuk kembali seperti semula.

Kalau dalam istilah game, saat ini kami masih berada di tahap common route. Jadi kalau Shinori tidak menancapkan flag dengannya sekarang, aku sendiri yang bakal repot.

Rencanaku adalah mengotak-atiknya sedikit dengan jalanku sendiri.

Sebut saja ini: 'Operasi Menuntun ke Route Shinori'.

Karena itu, mari kita mulai dari obrolan ringan untuk mencari celah masuk ke dalam hatinya.

"Kita sudah kenal lama ya, Hazaki. Aku kaget juga waktu tahu kita sekelas lagi di kelas dua."

"Iya sih. Tapi walau kenal lama, dari dulu kita kan memang jarang ngobrol."

Jlek. Bunyi pintu hati yang ditutup rapat-rapat bergema melintasi pikiranku.

Pertandingan selesai.

Terima kasih atas kerja kerasnya.

……Duh, susah juga ya.

Dan ini benar-benar merusak mentalku.

Sebab tidak ada hal yang lebih sulit di dunia ini selain melanjutkan percakapan dengan cewek yang sama sekali tidak berniat bicara denganmu.

Sayangnya, sejak kehidupan sebelumku pun aku memang bukan tipe cowok yang pandai bicara dengan cewek.

Memikirkan betapa payahnya aku yang sudah tersendat di langkah paling awal membuatku agak malu pada diri sendiri.

Namun, saat aku sedang bingung memikirkan langkah selanjutnya, secara tak terduga Shinori sendiri yang memperluas topik pembicaraan.

"Lagipula, aneh rasanya kalau Toyono-kun memanggilku dengan nama belakang. Soalnya waktu masuk SMA, orang tuaku menikah lagi dan nama belakangku berubah."

Aku mengangguk pada cewek yang tersenyum pahit itu.

Sebenarnya, ini juga salah satu alasan kenapa aku tidak menyadari kalau aku tereinkarnasi sampai belakangan ini.

Meski sudah kenal Shinori sejak kecil, karena nama belakangnya berubah, aku tidak pernah menyangka kalau dia adalah heroine eroge.

Lagipula sampai tingkat SMP pun penampilannya tidak terlalu mencolok sebagai cewek cantik.

Mana pernah terpikir di mimpi terburukku sekalipun kalau teman masa kecilku ini ternyata Malaikat Maut yang akan menyeretku ke jurang kematian.

Karena Shinori sudah mau diajak mengobrol, aku pun langsung mengalihkan ke topik utama.

"Belakangan ini kamu kelihatannya makin akrab ya sama Suga."

Begitu nama cowok itu keluar dari mulutku, ekspresi wajah Shinori langsung berubah keruh secara dramatis.

"……Kamu dengar yang tadi?"

"Pasti dengarlah."

"Menurutmu bagaimana?"

"Gimana ya…… keliatannya kalian akrab, jadi aku enggak menyangka dia bakal menolakmu."

Sebenarnya aku sudah mengamati interaksi Akito dan Shinori beberapa hari terakhir ini. Dan jujur saja, sikap cowok itu memang tipe yang bikin baper dan memberi harapan palsu.

Yah, karena dia protagonist eroge hal itu wajar saja sih, tapi kalau dilihat di dunia nyata, kadang tingkahnya memang bikin gedek.

Begitu melihat aku sependapat dengannya, Shinori langsung memajukan badannya.

"Kan!? Kelihatan banget kan!? Mana ada coba orang kayak gitu!?"

"Y-Yah, kurasa dia bukan cowok jahat kok, jadi jangan terlalu dipikirkan."

"Tapi tetap saja, masa menolak dengan cara seperti itu? Lagian ya——"

Sekali kerannya terbuka, omongannya tidak bisa dihentikan lagi.

Dari situ, keluarlah rentetan keluhan Shinori yang meluap-luap bagai bendungan jebol.

Mulai dari sebal dengan sikap Akito yang belakangan sering bikin baper, pusing karena Akito tidak pernah mengerjakan PR tiap hari, tapi agak senang juga karena merasa diandalkan, sampai keluhan kalau Akito itu cowok yang benar-benar tidak peka.

Rasanya di tengah-tengah keluhannya tadi ada sedikit nada pamer kemesraan (bucin), tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

Lalu soal tidak peka itu…… yah, mau bagaimana lagi.

Soalnya dia kan protagonist eroge.

Dia bukan cowok jahat, tapi bagi sebagian pihak, jenis cowok seperti dia itu memang musuh kaum cewek.

Yah, terlepas dari itu semua, tampaknya tingkat kesukaan Shinori terhadap Akito sudah turun lebih jauh dari yang kubayangkan.

"Sudah, sudah……"

Saat aku mencoba menenangkannya, Shinori menatapku dengan mata sepet.

Tampaknya dia benar-benar dibuat gemas dan kesal oleh tingkah laku Akito.

Tapi mengesampingkan obrolan santai ini, mari kita kembali ke inti game Sakuchiru.

Di game ini, semua heroine menyimpan masalah beratnya masing-masing.

Tugas sang protagonist, Suga Akito, adalah menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Dan masalah yang dialami Heroine Kehancuran yang sedang mengomel di depanku ini adalah…… perundungan (bullying).

Shinori saat ini sedang menjadi korban perundungan terselubung dari cewek-cewek di kelas.

Mungkin karena lelah setelah menumpahkan semua keluhannya, Shinori tertawa mengejek dirinya sendiri.

"Aku tahu kok. Dia itu orang yang sangat baik. ……Dia adalah satu-satunya orang di kelas ini yang mau mengajakku bicara."

"……"

Alasan Shinori dirundung murni karena iri.

Sejak awal masuk sekolah dia sudah dicap sebagai cewek cantik dan menjadi pusat perhatian, dan rupanya ada yang tidak suka dengan hal itu.

Yang awalnya hanya sebatas didiamkan atau diacuhkan biasa, begitu naik ke kelas dua perundungannya menjadi semakin parah dan dia dimusuhi secara terang-terangan oleh geng cewek populer di kelas.

Jika Akito tidak bisa menyelamatkan Shinori dari situasi ini, maka Bad End penuh keputusasaan akibat kalah dari perundungan sudah menantinya.

Sebuah masa depan yang benar-benar tanpa harapan.

Namun, ekspresi Shinori mendadak mengendur.

"Ah, tapi sekarang kamu jadi orang kedua deng. Orang yang mau mengajakku bicara."

"Ya wajarlah, bagaimanapun juga kita kan teman masa kecil?"

"Teman masa kecil…… Fufu, benar juga ya. Iya."

"Eh, kenapa kamu tertawa?"

"Enggak, cuma kaget saja kamu mau mengajakku ngobrol begini. Soalnya biasanya kamu kan selalu mengurung diri di duniamu sendiri?"

"Maaf ya kalau aku ini introvert yang tidak pandai bersosialisasi!"

Oik, memangnya seperti apa penilaian cewek ini terhadapku di dalam kepalanya!?

Ya, aku memang sudah curiga sih.

Tapi aku tidak menyangka bakal diberitahu secara gamblang kalau aku cuma dianggap karakter figuran yang tak berarti.

Sedikit menyakitkan juga ya.

"Aku enggak bermaksud mengejek kok?"

"……Yah, sudahlah."

Aku mendesah mendengar pembelaannya yang tidak jelas itu.

Penilaiannya tentangku tidak penting.

Yang jelas, aku harus menyampaikan hal penting ini padanya.

"Daripada memikirkan itu, nanti kamu harus bicara baik-baik lagi dengan Suga."

"Kenapa?"

"Dia itu cuma tidak peka saja. Kalau kamu bicara baik-baik, dia pasti paham kok."

"!? ……Maksudmu apa? Kamu mau bilang kalau aku menyukai orang itu?"

"Eh? Ah, bukan, kalau buatmu tersinggung aku minta maaf."

Padahal tanpa perlu pengetahuan tentang game pun, rasa sukanya pada Akito sudah kelihatan jelas sekali. Tapi sepertinya dia tidak suka karena aku yang menyangkutpautkannya.

Shinori menatapku dengan pandangan penuh arti.

"Kamu resmi jadi yang kedua. Sebagai Cowok Tidak Peka Nomor 2."

"……Terima kasih atas gelar kehormatannya."

Tepat setelah berhasil memulihkan sedikit tingkat kesukaan terhadap Akito, tingkat kesukaannya terhadap diriku justru merosot secara konsisten.


【Hazaki Shinori】

Tingkat Kesukaan pada Akito: 80% (→)

Tingkat Kesukaan pada Kyouta: 30% (↑)

Komentar

Options

Not work with dark mode
Reset